|
|
 |
 |
 |
 |
Masyarakat Jepang sejak lama telah menggunakan kayu sebagai bahan utama untuk konstruksi rumah tinggal mereka. Hampir seluruh bagian rumah tinggal seperti kolom, balok, dinding, dan lantai terbuat dari kayu. Kayu-kayu yang digunakan umumnya memiliki berat jenis rendah antara 0,3 hingga 0,5 yang oleh masyarakat kita jarang sekali dipergunakan untuk bahan konstruksi rumah tinggal. Sebagian kebutuhan bahan kayu masyarakat Jepang diperoleh dari Canada serta beberapa negara ASEAN seperti Indonesia dan Malaysia. Bagi masyarakat Jepang, harga kayu impor lebih murah jika dibandingkan dengan harga kayu produksi sendiri. Kayu dipilih oleh masyarakat Jepang karena bahan konstruksi ini memiliki tekstur yang indah dan sangat ramah terhadap lingkungan karena dapat terurai secara alami.
Walaupun dengan kualitas kayu yang lebih rendah, rumah tinggal kayu masyarakat Jepang dikenal memiliki ketahanan gempa yang baik. Bila dibandingkan dengan bahan konstruksi lainnya seperti beton atau baja, kayu memiliki nilai banding kekuatan terhadap berat yang lebih tinggi sehingga sangat sesuai untuk bahan konstruksi di daerah yang sering terjadi gempa. Dengan berat bangunan yang lebih ringan, maka gaya inertia yang diakibatkan oleh gempa akan menjadi lebih kecil sebagaimana dinyatakan oleh hukum kedua Newton. Selain itu, kayu juga merupakan bahan yang lentur atau fleksibel sehingga bangunan kayu dapat mengikuti gerakan gempa tanpa disertai kerusakan apabila dirancang secara baik. Pada saat terjadi gempa dasyhat tanggal 17 Januari 1995 di dekat pulau Awaji, Kobe yang berkekuatan 6,9 skala Ritcher, hanya sedikit korban jiwa yang jatuh diakibatkan oleh rusaknya atau robohnya rumah tinggal kayu walaupun rumah tinggal kayu yang mengalami kerusakan berjumlah hingga ribuan.
Terkait dengan banyaknya korban jiwa akibat runtuhnya rumah tinggal kayu ketika gempa akhir-akhir ini sering terjadi di negara kita, penulis ingin menyampaikan beberapa sifat rumah kayu masyarakat Jepang yang secara efektif telah meningkatkan ketahanan terhadap gempa. Prinsip atau sifat rumah kayu tahan gempa sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat kita karena negara Indonesia terletak diantara tiga lempeng aktif dunia: lempeng Pacific, Eurasia, dan Indo-Australia yang berpotensi menimbulkan gempa dengan skala kerusakan dari sedang hingga sangat merusak.
Terdapat empat sifat utama dari rumah tinggal kayu masyarakat Jepang yang berperan penting dalam meningkatkan ketahanan terhadap gempa. Yang pertama adalah denah yang persegi dan simetris. Rumah-rumah tinggal kayu Jepang hampir dapat dipastikan berbentuk persegi dengan ukuran panjang tidak lebih dari 1,5 kali ukuran lebar. Disamping itu, jendela atau pintu diletakkan sedemikian sehingga prinsip simetris tetap dipertahankan. Denah yang simetris menyebabkan pusat kekakuan/kekuatan dan pusat massa bangunan terletak pada satu titik yang sama sehingga bangunan terhindar dari bahaya puntir (berputarnya bangunan pada sisi atas dengan sisi bawah/fondasi diam) pada saat dilanda gempa.
Sifat kedua adalah penggunaan alat sambung mekanis. Jenis alat sambung mekanis yang umum digunakan adalah paku atau baut dan dilengkapi dengan pelat besi dalam berbagai bentuk dan ukuran. Karena kayu merupakan material dengan kemampuan berperilaku daktail1 yang terbatas, maka kerusakan sambungan diarahkan untuk terjadi terlebih dahulu pada alat sambungnya (paku atau baut) sehingga bangunan terhindar dari keruntuhan seketika. Prinsip ini mirip dengan perilaku kerusakan pada konstruksi beton bertulang tahan gempa. Kemampuan untuk rusak tanpa disertai keruntuhan menunjukkan kemampuan untuk menyerap energi gempa. Sambungan jenis takikan yang tidak disertai alat sambung mekanis sudah tidak lagi dipergunakan. Sambungan dengan model takikan tidak menjamin perilaku rusak yang baik oleh karena sifat mudah pecah kayu jika dibebani gaya geser searah serat atau gaya tarik tegak lurus serat. Selain itu, pembuatan sambungan takikan memerlukan keahlian tersendiri dan waktu tambahan sehingga tidak cocok untuk pembuatan konstruksi rumah sistim pre-fabrikasi.
Sifat ketiga dari rumah tinggal kayu Jepang adalah tersedianya sistim pengaku. Ada dua jenis sistim pengaku yang sering dijumpai pada rumah-rumah tinggal masyarakat Jepang yaitu dinding geser (shear wall) dan sistim pengaku lantai (diafragma). Dinding geser umumnya terbuat dari plywood dengan ketebalan berkisar antara 0,5 hingga 1 inchi. Dinding plywood ini diikatkan kuat pada kolom di kedua sisi vertikalnya dan diikatkan pada balok kayu horizontal (ring balok atau balok sloof) di kedua sisi lainnya dengan paku. Sedangkan pengaku diafragma tersusun dari balok-balok kayu yang dipasang saling tegak lurus satu sama lainnya, dan beberapa balok kayu lainnya dipasang secara silang. Jarak antara balok-balok ini sangat rapat agar dapat meningkatkan stabilitas dan mempertahankan bentuk asli bangunan. Kedua jenis pengaku tersebut secara bersama-sama meningkatkan ketahanan gempa bangunan.
Sifat yang terakhir adalah sistim pengangkeran (anchoring) yang kokoh. Umumnya gempa-gempa yang terjadi di Jepang memiliki komponen arah vertikal selain arah horizontal. Agar rumah tidak terlepas dari fondasinya, maka seluruh bangunan harus terikat kuat dengan fondasinya. Rumah tinggal kayu masyarakat Jepang diikatkan ke fondasi beton melalui sistim anchoring tidak hanya pada bagian kolomnya saja, tetapi juga pada seluruh balok sloof. Untuk setiap jarak tertentu, besi angker yang umumnya berpenampang bulat berulir dengan diameter minimal 0,5 inchi disambungkan dengan balok sloof melalui beberapa alat sambung paku dan pelat besi, dan ujung lainnya ditanamkan ke dalam fondasi beton bertulang. Dengan sistim pengangkeran yang kokoh ini, maka seluruh konstruksi (struktur rumah beserta fondasinya) menjadi satu kesatuan dalam mendukung gaya gempa.
Sebagian atau seluruh prinsip konstruksi rumah kayu masyarakat Jepang tersebut telah diketahui oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Namun demikian perlu kesadaran dari semua elemen yang bergerak di bidang jasa konstruksi untuk menerapkan secara ideal prinsip-prinsip tersebut sehingga keselamatan masyarakat penghuni rumah tinggal kayu dapat lebih terjamin saat terjadi gempa.
1 daktail: perubahan bentuk akibat pembebanan tanpa disertai kegagalan/keruntuhan
Identitas penulis
Ali Awaludin
Dosen Jurusan Teknik Sipil UGM, saat ini sedang menempuh studi S3 di Hokkaido University, Sapporo, Japan
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
 |
 |
 |
 |
Dear all,
It`s been a while since my last posting. I was having 1 month traveling to some cities in Indonesia and only stays for few days in every city. Which make me didn`t have many times to sit in front of computer and actually I didn`t have many internet connection too.
The first time I reach Indonesia, I don`t have interest to check my e-mail. I don`t even want to check it because checking mails means checking whatever job waiting, and I`m on vacation.
In new year, I was in a small city in North Sumatra. In Japan, New Year is a very important eve. Everybody is celebrating it, and not giving a greeting to your colleague might seem impolite. And there was I, in small city in Indonesia where sending new year postcard to my colleagues will be very expensive and sending greeting from internet is difficult. And at that time I thought that I am the only one who think "gosh, I am dying for internet connection". So I was not complaining.
What I figure out when I went home to Indonesia is that I am not alone. More and more people are becoming like me. I see more people in Starbucks with their laptop. I see on TV advertisement about internet is going to be applied in every school in Indonesia (I really wish it could happened soon) as speedy campaign for internet goes to school (or was it flexi? I don`t remember to be honest).
When I was in Bali, cafe with most people is not the one with best food, but the one that provide internet connection (hot spot). Hotels without internet connection is out of date, and I noticed that lounge that provide internet connection lure more guests. When I was in Ngurah Rai airport I went into premium lounge and met some people. I paid to get into there, and so was them (you can actually get in free if you have a card like mandiri prioritas, citibank platinum, or else).
My reason is because my flight is another 6 hours and rather then waiting outside, I prefer to pay and wait in a comfortable couch, taking nap, feeling safe not to always keep an eye on my bag, have some snacks provided by the lounge and checking my mails (there was internet connection there). I talked to some people I met, they said the main reason they get into the lounge is because the internet connection. They need to get in contact with their family and their work. There is one or two internet cafe outside but they are expensive and the place was inconvinience. If it does not different that much, why not choosing the lounge they said.
I still remember when I was in junior highschool, my sister have to drag me to warnet (internet cafe) near our house to explain what is e-mail, internet, chatting, and so on and so on. Still I was not so fond of internet, because I think it just a wate of time and money for people who don`t have enough friends and job to keep them busy. A luxury for the lazy.
It took me more time to figure out that I can use internet for more than exchanging news with my cousins that live abroad. It was on my 1st year of university I figure out that internet is the most fastest, amazing, and ... (put any positive word here) to find information. Whatever information you would like to have.
And now? Well, now I almost cannot live without internet. I send my boyfriend a morning kiss with it, I talk to my nephew and my sister with it, I finish my report with it, I said happy birthday to my friend with it, and so on and so on. And of course I keep in touch with all of you all with internet too. Internet has become one of crucial component in my life. It is my worktool, it is my lovetool, it is my researchtool, it is my life. It is not a luxurious thing anymore. It is a necessity for me. Maybe a person than stand on my view point when I was in highschool will call me "The Lazy that wasting time and money for internet" (hahahahhaha. ...)
How about you all? Tell me, can you live without internet?
Maria Dewi Puspitasari TGP
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|