 |
 |
 |
 |
| |
Bersabarlah ...
Pagi hari, setiap Sabtu Koko selalu bersiaga di depan televisi. Ia menyetel sebuah stasiun televisi. ''Thomas!'' teriaknya begitu film kesayangannya dimulai. Koko tak pernah peduli pada film lain. Hanya satu film itu yang ditunggunya setiap pekan. Uni, ibunya tak pernah mengkritik film pilihan Koko yang sebenarnya ditujukan pada anak TK. Padahal, Koko sudah duduk di kelas lima SD, di sebuah perguruan di Jakarta Selatan. Koko amat suka pada sosok-sosok kereta api, Thomas dan kawan-kawan, dalam film itu. Bila film berakhir, bocah berumur sepuluh tahun itu buru-buru mengambil kertas, menggambar kembali adegan dan ekspresi kereta api yang baru ditontonnya.
''Bu, aku lihat lho, Thomas di Blok M, kemarin,'' kata Koko membuka pembicaraan sambil menyendok sarapan paginya. ''O, ya? Biasa, orang dagang mainan bareng sama filmnya,'' jawab Uni. ''Harganya Rp 59.000.'' ''O, ya? Kamu ingin beli?'' ''Iya. Aku punya dua ratus ribu dari Simbah.'' ''Ko, itu mainan anak-anak, lho. Kamu sudah besar, masak main mainan seperti itu,'' kata Uni, mengingatkan, ''Sayang uangmu.'' Koko terdiam. Ia paling malu jika disebut seperti anak kecil. ''Tapi, banyak orang dewasa yang suka mainan anak-anak,'' katanya setelah terdiam beberapa lama.
Uni menatap wajah anaknya dalam-dalam. Dalam hatinya, ia bisa merasakan keinginan Koko yang amat dalam. ''Ibu hanya sayang kalau kamu membuang-buang uangmu karena pasti akan butuh banyak mainan untuk satu set. Itu pada akhirnya mahal sekali,'' ujar Uni. Ia ingin membukakan pemikiran baru pada Koko. Sebab, Koko biasanya cepat bosan pada mainan. Saat musim crush gear, Koko pun ingin punya. Namun, setelah mainan itu sampai ke tangannya, usia 'kecintaannya' hanya dalam hitungan hari. Mainan itu pun tersuruk di pojok laci untuk selama-lamanya. ''Bagaimana kalau kamu beli tempat pensil gambar Thomas saja? Lebih murah dan bisa dibawa ke mana-mana,'' saran Uni. Wajah bocah laki-laki itu tampak kecewa. ''Aku nggak tertarik.'' ''Bagaimana kalau kamu tunggu sebulan lagi. Kalau kamu masih menginginkannya, belilah. Tapi, cuma satu,'' usul Uni lagi. Secercah cahaya memburat di wajah cokelat terbakar matahari itu. ''Oke,'' sahutnya.
Hari demi hari berlalu. Pekan pertama berganti ke pekan kedua. Suatu hari, pagi seusai shalat Subuh Koko menyapa ibunya. ''Bu, aku mimpi indah tadi malam,'' katanya. ''Mimpi apa?'' ayahnya yang menyambar. ''Aku mimpi bermain Thomas,'' jawab Koko sambil memandang ibunya. ''O, ya? Kamu masih ingat Thomas?'' Bocah itu mengangguk. ''Kalau mau beli, kan masih dua minggu lagi.'' ''Aku tahu,'' kata Koko sambil tersenyum. ''Kamu mau ngecek reaksi Ibu, ya?'' ''Iih, Ibu nuduh!'' ujar Koko sambil tertawa.
Tak terasa dua minggu berikutnya pun menghampiri. Hari Sabtu petang itu, Koko mandi dan rapi tanpa disuruh-suruh. Seisi rumah mahfum, saat yang dinanti-nanti sudah tiba. Hari itu, Koko bisa menggenggam Thomas, si kereta api idamannya. Berminggu-minggu, Koko tak lepas dari Thomas. Katalog yang menunjukkan seluruh 'handai taulan' Thomas pun menjadi temannya. Bisa diperkirakan apa yang ada dalam benak Koko. Ia ingin melengkapi koleksinya!
Sampai suatu pagi, Koko penuh antusiasme bercerita pada ibunya. ''Bu, aku mimpi bagus tadi malam,'' katanya. ''Coba Ibu tebak. Mimpi teman-temannya Thomas, kan?'' ''Lho, Ibu kok tahu?'' ''Hmm, nebak saja ...'' ''Jangan khawatir, Bu. Aku bisa sabar menunggu dua bulan untuk membeli.'' Uni tersenyum lebar. ''Kamu tahu, mengapa Ibu menyuruh kamu menunggu?'' ''Supaya aku belajar sabar?'' ''Yap. Tak mudah belajar sabar, belajar menunda keinginan. Tapi, percaya deh, orang yang tak sabaran, selalu keinginannya dipenuhi segera tak banyak orang yang suka.'' Koko hanya manggut-manggut. Yang pasti, mimpi indahnya kemudian kerap datang ...
(poy ) - disadur dari Republika online edisi 29 April 2007 -
|

| |
Berapa lama Kita dikubur?
Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.
Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.
Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915: 20- 01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...
"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.
"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "
Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"
"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"
Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.
Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas . "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.
Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...
Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?
Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya
Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.
Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya... "Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."
|

| |
Once Upon The Time
Once upon the time, one of my friends saw my family picture. By pointing the picture, she asked me, which one the most you missed for. I answered, "All!"
She didn't accept that then asked again, more specific, "No, that I don’t want to hear! If you have to choose just one of them, which one will you choose, which one the most you missed for. Remember, just only one".
Since I never and ever think to calculate to whom I love most and less. It was difficult question. Thanks to Alloh who gave me one beautiful angel, one wonderful little prince and one pretty little princesses. They are part of my life and it is impossible to calculate separately as we cannot determine which one the most important between heart and lung.
“Which one?” she asked again,
After long silent, with appearing a winning smile, I answered, “LOVE”.
*thanks to Sony SSW (http://sonyssw.multiply.com/journal/item/22) for his permission for taking this inspiring story to our website
|
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|